RSS

Gosip!

01 Oct

Sepertinya yang sudah gw duga, cepat atau lambat, akhirnya pertanyaan itu muncul juga… “Jadian ya sama si *****?” and the answer isss… NO, ladies and gentlemen!! Inilah kenapa gw bilang jangan berasumsi… wkwkwk. Untung kok dikonfirmasi ke gw.

Kebiasaan buruk manusia adalah suka sekali berasumsi, lalu kemudian, entah karena alasan apa, asumsi itu berusaha dikonfirmasikan kepada pihak bersangkutan, melainkan kepada pihak-pihak lain yang sangat mungkin tidak berkepentingan (read: teman-temannya si pembuat asumsi pertama).
Contoh kasus…
A melihat Z matanya merah dan bengkak.
A, kepada teman-temannya: “Eh, si Z kenapa tuh, kok matanya merah gitu, bengkak pula!”
B (teman si A): “Hah? Serius loe? Mana-mana? Eh iya lho, kenapa dia?”
C (teman mereka juga): “Siapa sih? Yang mana? Oh, ada masalah ma cowonya kali…” (udah ga kenal sotoy!)
A: “Oh iya, kmrn juga gw baca status FBnya dia kaya lagi sedih gitu sih…”
B: “Cowonya yg mana sih? Si Anu ya? Huu… cowo kaya gitu ditangisin…”
dst. dsb.
Padahal sih… bisa aja si Z itu matanya merah en bengkak karena alergi… *gubraxxx*

Asumsi seringkali membuat orang sakit hati, misalnya ketika D melihat cewek yg ditaksirnya berjalan berdampingan dengan X, ia berasumsi mereka jadian, lalu patah hati. Padahal… mungkin mereka sedang ada tugas kelompok yang perlu dibahas bersama-sama. Kasus lain ketika seorang ibu melihat anaknya berfoto bersama seorang cowo… “Siapa ini? Pacar kamu ya? Mama kan udah bilang, masih kecil ga boleh pacaran…” dsb. dst., si ibu marah-marah ga jelas… lalu anaknya pun menjawab: “Mama ih, itu kan bang J, anaknya tante SS” (maklum lah, mama sudah lama tidak melihat dia, nak…).

Dan seterusnya, dan sebagainya… ini masih kasus-kasus yang sederhana. Kasus-kasus lain mengenai asumsi yang berkembang menjadi masalah besar, bahkan tidak jarang sampai melibatkan banyak orang, malah jangan-jangan bisa sampai terjadi perang. Semuanya gara-gara asumsi yang tidak dikonfirmasikan.

Padahal sangat mudah kan, ketika melihat Z seperti habis menangis, A (sebagai teman yang baik) menghampiri lalu bertanya: “kenapa, Z?” atau ketika melihat si kecengan jalan sama X, ditanya baik2 “tadi ngomongin apa sama X, seru bgt?” dan kemudian dari sana kita bisa mengetahui kebenarannya.

Hal yang sama berlaku juga dalam berteologi (lho, kok??), khususnya dalam teologi lintas agama. Jangan mengasumsikan orang Katolik itu menyembah berhala karena mereka berdoa di depan patung, contoh sederhananya. Kalau ada hal yang dirasakan aneh, cobalah untuk bertanya, apa sih makna di balik itu?

Jangan-jangan selama ini pertikaian antar agama terjadi karena dalam kehidupan sehari-hari kita terlalu banyak berasumsi dan menyebarluaskan gosip…🙂

 
Leave a comment

Posted by on October 1, 2009 in Yang Telah Lalu

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: